Rabu, 12 Agustus 2015

Pentingnya Pendidikan Komputer

0 komentar
Pentingnya Pendidikan Komputer Pada Anak Usia Dini

PENDAHULUAN
 
http://www.majalahexcellent.com/web/images/artikel/php4ms_xw_resized.jpg                Pada usia dini merupakan usia keemasan (golden age) .Masa dimana tempat peletakan batu pertama atau saat penanaman konsep sehingga jika suatu konsep tertanam dengan benar maka akan berguna bagi kehidupannya anak, tidak hanya berguna untuk masa sekarang namun konsep akan tertanam hingga ia tua. Oleh sebab itu pendidikan anak usia harus dapat memperhatikan konsep konsep yang benar pada anak. Namun dalam penanaman konsep guru tentu harus menyesuaikan dengan keadaan lingkungan anak, zaman dan teknologi. Pada zaman sekarang, teknologi sangat berperan dalam perkembangan anak ,hal ini disebabkan karena teknologi merupakan sarana utuk membantu anak dalam metode praktis dan mudah sehingga dapat mengembangkan aspek aspek perkembangan anak baik kognitif, afektif, dan psikomotor. Salah satu sarana di bidang teknologi yaitu komputer. Komputer tidak hanya bermanfaat bagi orang dewasa namun sekarang sangat bermanfaat bagi anak usia dini. Komputer ini bermanfaat dapat dilakukan melalui bermain. Permainan komputer pada anak juga harus disesuaikan karakteristik anak maupun pola perkembangan anak. Permainan komputer khususnya bertujuan agar anak mampu mengoperasikan komputer yang sesuai dengan karakteristik anak, menggerakkan mouse dan juga dapat melatih koordinasi antara mata dan tangan sehingga adanya integrasi antara tangan dan mata sehingga perkembangan anak dapat berjalan dengan optimal, karena semakin banyak indra anak yang distimulasi dikoordinasikan maka akan semakin berkembanglah aspek aspek perkembangan anak .
Pembahasan
Pentingnya pendidikan komputer pada anak usia dini
            1.Pengertian dan karakteristik anak usia dini
       1.  Pengertian
Dalam undang-undang tentang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (UU Nomor 20 Tahun 2003 Bab I Pasal 1 Ayat 14).
Anak usia dini adalah anak yang baru dilahirkan sampai usia 6 tahun. Usia ini merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 7). Usia dini merupakan usia di mana anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Usia dini disebut sebagai usia emas (golden age). Makanan yang bergizi yang seimbang serta stimulasi yang intensif sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tersebut.\
       Karakteristik anak usia dini
Ada banyak hal yang diperoleh dengan memahami karakteristik anak usia dini antara lain :
a.      Mengetahui hal-hal yang dibutuhkan oleh anak yang bermanfaat bagi perkembangan hidupnya.
b.      Mengetahui tugas-tugas perkembangan anak sehingga dapat memberikan stimulasi kepada anak agar dapat melaksanakan tugas perkembangan dengan baik.
c.       Mengetahui bagaimana membimbing proses belajar anak pada saat yang tepat sesuai dengan kebutuhannya.
d.      Menaruh harapan dan tuntutan terhadap anak secara realistis.
e.      Mampu mengembangkan potensi anak secara optimal sesuai dengan keadaan dan kemampuan.
Ada berbagai kajian tentang hakikat anak usia dini, khususnya anak TK diantaranya oleh Bredecam dan Copple, Brener, serta Kellough (dalam Masitoh dkk., 2005: 1.12 – 1.13) sebagai berikut.
  1. Anak bersifat unik.
  2. Anak mengekspresikan perilakunya secara relatif spontan.
  3. Anak bersifat aktif dan enerjik.
  4. Anak itu egosentris.
  5. Anak memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan antusias terhadap banyak hal. 
  6. Anak bersifat eksploratif dan berjiwa petualang.
  7. Anak umumnya kaya dengan fantasi.
  8. Anak masih mudah frustrasi.
  9. Anak masih kurang pertimbangan dalam bertindak.
  10. Anak memiliki daya perhatian yang pendek.
  11. Masa anak merupakan masa belajar yang paling potensial.
  12. Anak semakin menunjukkan minat terhadap teman.
Anak usia dini (0 – 8 tahun) adalah individu yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Bahkan dikatakan sebagai lompatan perkembangan karena itulah maka usia dini dikatakan sebagai golden age (usia emas) yaitu usia yang sangat berharga dibanding usia-usia selanjutnya
       2.Teori Perkembangan Anak
Perkembangan  dapat  diartikan  sebagai “perubahan  yang  progresif  dan  kontinyu (berkesinambungan)  dalam  diri  individu mulai  dari lahir sampai mati [7].  Salah  satu  prinsip  perkembangan  adalah perkembangan merupakan proses yang  tidak pernah berhenti  (never  ending  process).  Manusia  secara terus  menerus  berkembang  atau  berubah  yang dipengaruhi oleh pengalaman atau belajar sepanjang hidupnya.  Prinsip  yang  lain  adalah  semua  aspek perkembangan  saling  mempengaruhi,  baik  aspek fisik,  emosi,  inteligensi  maupun  sosial.  Terdapat hubungan  yang  positif    di  antara  aspek-aspek tersebut. Memahami  perkembangan  anak  merupakan salah  satu upaya untuk mendidik atau membimbing anak,  agar  mereka  dapat  mengembangkan  potensi dirinya  seoptimal  mungkin. Masa  anak  merupakan periode  perkembangan  yang  cepat  dan  terjadinya perubahan  dalam  banyak  aspek  perkembangan. Selain  itu,  pengalaman  masa  kecil  mempunyai pengaruh  yang  kuat  terhadap perkembangan berikutnya.  Untuk  itu  perlu  diperhatikan  faktor-faktor  yang  mempengaruhi  perkembangan,  yaitu hereditas dan lingkungan.Keluarga  mempunyai  peranan  yang  sangat penting dalam upaya mengembangkan pribadi anak. Erik Erickson  sebagaimana  dikutip  oleh Monks mengajukam  delapan  tahapan  perkembangan psikologis dalam kehidupan seorang individu dan itu semua  bergantung  pada  pengalaman  yang diperolehnya dalam keluarga. Selama tahun pertama, seorang  anak  harus  mengembangkan  suatu kepercayaan  dasar  (basic  trust),  tahun  kedua  dia harus mengembangkan otonominya, dan pada  tahun berikutnya  dia  harus  belajar  inisiatif  dan  industri yang mengarahkannya ke dalam penemuan  identitas dirinya. Pada usia sekitar 2 atau 3 tahun, anak banyak belajar mengenai berbagai macam  koordinasi visio-motorik.  Aktivitas-aktivitas  senso-motorik  telah dapat  diintegrasi  menjadi  aktivitas  yang dikoordinasi.  Hal  ini  penting misalnya  pada  waktu mencontoh  sebuah  gambar  atau  sebuah  benda. Apa yang  dilihat  dengan  mata  harus  dapat  dipindahkan dengan  motoriknya  menjadi  sebuah  pola  tertentu. Sekitar  tahun  ke-4  semua  pola  lokomotorik  yang biasa sudah dapat dikuasainya.
       3.   Tugas Perkembang Fase Kanak-Kanak
Pada  perkembangannya,  seorang  anak  akan melewati  beberapa  tugas  prakembang  agar perkembangan  fisik  dan  psikologinya  berjalan dengan  baik.  Tugas-tugas  prakembang  pada  fase kanak-kanak  diantaranya  adalah:  mempelajari ketrampilan  fisik,  membangun  sikap  sehat  untuk mengenal  diri  sendiri,  belajar  menyesuaikan  diri dengan  teman  seusia  (peer group), menggabungkan peran  sosial  pria  dan  wanita  dengan  tepat, mengembangkan  ketrampilan-ketrampilan  dasar untuk  membaca,  menulis  dan  berhitung, mengembangkan  pengertian-pengertian  yang diperlukan  dalam  kehidupan  sehari-hari, mengembangkan  hati  nurani,  pengertian moral,  dan tata  serta  tingkatan  nilai,  mengembangkan  sikap terhadap  kelompok-kelompok  sosial  dan  lembaga-lembaga, serta mencapai kebebasan pribadi.Untuk  memenuhi  fase  prakembang  ini, terdapat  beberapa  faktor  yang  mempengaruhi penguasaan tugas-tugas perkembangan
       4.    Pengertian komputer 
telah mengalami banyak perkembangan dari yang pada awalnya digunakan untuk menyebutkan orang yang dalam pekerjaannya melakukan perhitungan operasi Aritmetika, namun seiring waktu dengan perkembangannya istilah komputer mengacu kepada sebuah mesin sebagai alat hitung. Komputer dijaman modern mengarah ke sebuah rangkaian alat elektronik yang mampu melakukan banyak tugas dan memiliki banyak fungsi. Istilah Komputer berasal dari sebuah bahasa latin yaitu computare yang berarti menghitung dan dalam bahasa inggris bisa disebut to compute, yang pada awalnya ditujukan pada orang yang menghitung dan setelah itu ditujukan kepada sebuah alat hitung mekanis lalu seiring perkembangan menjadi alat istimewa yang mampu melakukan berbagai hal yang menakjubkan. Definisi Komputer dapat di terjemahkan sebagai sekumpulan alat elektronik yang satu sama lain saling bekerja sama terkoordinasi dibawah kontrol program dengan kemampuan dapat menerima data (input) lalu mengolah data (proses) tersebut dengan menghasilkan informasi (output).
        5.    Pengertian permainan komputer pada anak usia dini
Bemain adalah suatu aktivitas dan kualitas pikiran dalam melibatkan suatu pandangan dunia seseorang. Bermain mengacu kepada berbagai kegiatan sukarela, termotivasi intrinsik yang biasanya terkait dengan kesenangan dan kenikmatan.
Disimpulkan bahwa bermain komputer bagi anak usia dini adalah suatu kegiatan bermain yang bersifat interaktif dan menyenangkan bagi anak
       6.    Tujuan permainan komputer bagi anak usia dini
Permainan bertujuan pada dasar nya untuk menstimulasi aspek aspek dari perkembangan anak dimulai dari kecerdasan anak(kognitif),afektif psikomotor,agama, sosial_emosional ,bahasa dan seni. namun secara khusus game ini bertujuan untuk mengenalkan anak pada komputer,  Game  dapatmelatih anak menggunakan komputer, dan supaya lincah pegang mouse.dan juga dapat melatih koordinasi antara mata dan tangan sehingga adanya integrasi antara tangan dan mata sehingga perkembangan anak dapat berjalan dengan optimal.
Anak-anak mengembangkan keterampilan pada 5 bidang:
      a)      Keterampilan Kognitif (Cognitive Skill)
 Keterampilan kognitif berkaitan dengan kemampuan untuk belajar dan memecahkan masalah. Contohnya, bayi usia 2 bulan belajar mengenal lingkungan dengan tangan dan mata atau anak usia 5 tahun belajar hitungan matematika sederhana
      b)      Keterampilan Sosial dan Emosional (Social and Emotional Skill)
Keterampilan sosial dan emosional adalah kemampuan berinteraksi dengan orang lain, membantu orang lain dan pengendalian diri. Contohnya anak usia 1 tahun melambaikan tangan kepada orang tuanya, anak usia 5 tahun bermain bersama dalam  kelompok.
      c)      Keterampilan Berbicara dan Bahasa (Speech and Language Skill)
Keterampilan ini berkaitan dengan kemampuan memahami dan menggunakan bahasa. Anak usia 1 tahun mengerti nama panggilannya, anak usia dua tahun mengerti nama-nama anggota tubuhnya.
      d)     Keterampilan Motorik Halus (Fine Motor Skill)
Keterampilan ini berkaitan dengan kemampuan anak menggunakan otot-otot kecilnya khususnya tangan dan jari-jari tangan misalnya memegang sendok untuk makan atau menggunakan krayon untuk menggambar.
      e)       Keterampilan Motorik Kasar (Gross Motor Skill)
Keterampilan ini berkaitan dengan kemampuan menggunakan otot-otot besar. Misalnya anak usia 1 tahun belajar berjalan, atau anak usia 3 tahun menendang bola.
       7.     Manfaat pendidikan komputer bagi anak usia dini
       v Melatih logika
Saat bermain game, anak-anak harus menggunakan berbagai strategi untuk memenangkan permainan. hal ini dapat melatih penggunaan logika, menganalisa, dan memecahkan masalah yang sedang dihadapi
       v Melatih kemampuan spasial
Melalui game permainan, kemampuan spasial anak yang berhubungan dengan kecerdasan gambar dan bervisualisasi akan terasah. Kemampuan ini akan berpengaruh dengan kemampuan berhitung mereka. Selain itu, permainan juga akan membantu penggunaan motorik halus anak.
       v Kemampuan membaca
Bagi anak yang belum lancar membaca, game konsol bisa jadi alat yang tepat untuk membantu belajar membaca. Seperti di ketahui ada beberapa game ada yang bersifat edukasi dan bisa membantu anak untuk belajar dengan cara yang lebih asyik. Selain itu, saat bermain anak juga diharuskan membaca setiap perintah yang diberikan oleh tokoh game dan narator game. Maka, secara tak langsung anak bisa belajar membaca dan mengeja secara signifikan.
       v Stimulasi otak
Dalam game permainan ada yang bisa membuat permainan sendiri sesuai dengan yang diinginkannya. Hal tersebut bisa membantu stimulasi otak dan proses berpikir untuk menciptakan skenario yang panjang dan rumit sebagai bagian dari pengembangan kreativitas mereka
       v Mengembangkan imajinasi
Permainan bisa membantu anak untuk mengembangkan imajinasi mereka. Anak bisa menggunakan imajinasi ini untuk menyeimbangkan berbagai kejadian dalam film dan diaplikasikan dalam dunia nyata (yang relevan dan postif)
       v Penggunaan bahasa Inggris
Salah satu game anak yang disukai adalah konsol dan game online. game ini banyak dibuat oleh perusahaan luar negeri yang mempergunakan bahasa Inggris. Saat memainkannya, diharuskan untuk menguasai bahasa Inggris agar bisa menyelesaikan permainannya. hal ini menjadikan anak secara tak langsung diharuskan untuk menguasai bahasa Inggris
Penutup
Kesimpulan
Bahwa pendidikan komputer sangat penting bagi anak usia dini pada zaman sekarang. Hal ini disebabkan bahwa setiap ilmu pengetahuan harus mengacu pada kemajuan zaman dan bagaimana teknologi yang berkembang pada saat itu sehingga dapat terealisasikan. Tujuan pendidikan komputer bagi anak yaitu untuk menstimulasi aspek aspek dari perkembangan anak dimulai dari kecerdasan anak(kognitif),afektif psikomotor,agama, sosial,emosional ,bahasa dan seni. namun secara khusus game ini bertujuan untuk mengenalkan anak pada komputer,  Game  dapatmelatih anak menggunakan komputer, dan supaya lincah pegang mouse.dan juga dapat melatih koordinasi antara mata dan tangan sehingga adanya integrasi antara tangan dan mata sehingga perkembangan anak dapat berjalan dengan optimal.dan manfaat bagi anak yaitu melatih logika anak, kemampuan membaca anak, stimulasi otak, mengembangkan imajinasi, serta penggunaan bahasa inggris anak.
Baca Selengkapnya →

Pentingnya Pendidikan Karakter

0 komentar
Pentingnya Pendidikan Karakter pada anak sejak usia dini ,
                                                  BAB I
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
Salah satu misi mewujudkan visi bangsa Indonesia masa depan telah termuat dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara yaitu mewujudkan sistem dan iklim pendidikan nasional yang demokratis dan bermutu guna memperteguh akhlak mulia , kreatif, inovatif, berwawasan kebangsaan, cerdas, sehat, berdisiplin dan bertanggungjawab, berketerampilan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka mengembangkan kualitas manusia Indonesia Terlihat dengan jelas GBHN mengamanatkan arah kebijakan di bidang pendidikan yaitu: meningkatkan kemampuan akademik dan profesional serta meningkatkan jaminan kesejahteraan tenaga kependidikan sehingga tenaga pendidik mampu berfungsi secara optimal terutama dalam peningkatan pendidikan watak dan budi pekerti
agar dapat mengembalikan wibawa lembaga dan tenaga kependidikan: memberdayakan lembaga pendidikan baik sekolah maupun luar sekolah sebagai pusat pembudayaan nilai, sikap, dan kemampuan, serta meningkatkan partisipasi keluarga dan masyarakat yang didukung oleh sarana dan sarana yang memadai memadai.
Sementara itu, UU 20 2003 tentang Sisdiknas menyatakan bahwa Pendidikan Nasional Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Berangkat dari hal tersebut diatas, secara formal upaya menyiapkan kondisi, sarana/prasarana, kegiatan, pendidikan, dan kurikulum yang mengarah kepada pembentukan watak dan budi pekerti generasi muda bangsa memiliki landasan yuridis yang kuat. Namun, sinyal tersebut baru disadari ketika terjadi krisis akhlak yang menerpa semua lapisan masyarakat. Tidak terkecuali juga pada anak-anak usia sekolah. Untuk mencegah lebih parahnya krisis akhlak, kini upaya tersebut mulai dirintis melalui pendidikan karakter bangsa. Dalam pemberian pendidikan karakter bangsa di sekolah, para pakar berbeda pendapat. Setidaknya ada tiga pendapat yang berkembang. Pertama, bahwa pendidikan karakter bangsa diberikan berdiri sendiri sebagai suatu mata pelajaran. Pendapat kedua, pendidikan karakter bangsa diberikan secara terintegrasi dalam  mata pelajaran yang relevan. Pendapat ketiga, pendidikan karakter bangsa terintegrasi ke dalam semua mata pelajaran.
1.2  TUJUAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini ialah        :
1.      Mengetahui pengertian pendidikan karakter
2.      Mengetahui bentuk-bentuk Pembelajaran Terpadu Yang Berkarakter
3.      Mengetahui seberapa penting pendidikan karakter pada usia dini
4.      Mengetahui peran guru dalam pendidikan karakter
1.3  RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah makalah ini adalah          :
      1.      Apa pengertian dari pendidikan karakter ?
      2.     seberapa penting pendidikan karakter pada usia dini ?
       1.4 RUANG LINGKUP
Ruang lingkup dalam makalah ini adalah mengurai bentuk-bentuk pembelajaran terpadu yang berkarakter serta mengkritisi seberapa penting adanya pendidikan karakter pada anak usia dini.
BAB II
PEMBAHASAN
                        2.1 PENDIDIKAN KARAKTER
            Pendidikan adalah proses internalisasi budaya ke dalam diri seseorang dan masyarakat sehingga membuat orang dan masyarakat jadi beradab. Pendidikan bukan merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetapi lebih luas lagi yakni sebagai sarana pembudayaan dan penyaluran nilai (enkulturisasi dan sosialisasi). Anak harus mendapatkan pendidikan yang menyentuh dimensi dasar kemanusiaan.
Dimensi kemanusiaan itu mencakup sekurang-kurangnya tiga hal paling mendasar, yaitu: (1) afektif yang tercermin pada kualitas keimanan, ketakwaan, akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur serta kepribadian unggul, dan kompetensi estetis; (2) kognitif yang tercermin pada kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menggali dan mengembang-kan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi; dan (3) psikomotorik yang tercermin pada kemampuan mengembangkan keterampilan teknis, kecakapan praktis, dan kompetensi kinestetis.
            Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak”. Menurut Tadkiroatun Musfiroh (UNY, 2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan karakter mulia.
           Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanman nilai nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Semua komponen (pemangku pendidikan) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan. Di samping itu, pendidikan karakter dimaknai sebagai suatu perilaku warga sekolah yang dalam menyelenggarakan pendidikan harus berkarakter.
           
                Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif. Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. 
Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu: pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; kedua, kemandirian dan tanggungjawab; ketiga, kejujuran/amanah, diplomatis; keempat, hormat dan santun; kelima, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; keenam, percaya diri dan pekerja keras; ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; kedelapan, baik dan rendah hati, dan; kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan. 
Kesembilan pilar karakter itu, diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan holistik menggunakan metode knowing the good, feeling the good, dan acting the good. Knowing the good bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja. Setelah knowing the good harus ditumbuhkan feeling loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan menjadi engine yang bisa membuat orang senantiasa mau berbuat sesuatu kebaikan. Sehingga tumbuh kesadaran bahwa, orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan kebajikan, maka acting the good itu berubah menjadi kebiasaan. 
            Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya.
            Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itudalam konteks pendidikan diIndonesia adalah pedidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda.
            Pendidikan karakter berpijak dari karakterdasar manusia, yang bersumber dari nilai moral universal (bersifat absolut) yang bersumber dari agama yang juga disebut sebagai the golden rule. Pendidikan karakter dapat memiliki tujuan yang pasti, apabila berpijak dari nilai nilai dasar karakter tersebut. Menurut para ahli psikolog, beberapa nilai karakter dasar tersebut adalah: cinta kepada Allah dan ciptaann-Nya (alam dengan isinya), tanggung jawab, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli, dan kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan; baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai, dan cinta persatuan. Pendapat lain mengatakan bahwa karakter dasar manusia terdiri dari: dapat dipercaya, rasa hormat dan perhatian, peduli, jujur, tanggung jawab; kewarganegaraan, ketulusan, berani, tekun, disiplin, visioner, adil, dan punya integritas. Penyelenggaraan kearakter di sekolah harus berpijak kepada nilai-nilai karakter dasar, yang selanjutnya dikembangkan menjadi nilai-nilai yang lebih banyak atau lebih tinggi (yang bersifat tidak absolut atau bersifat relatif) sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan lingkungan sekolah itu sendiri.
            Dewasa ini banyak pihak menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan pendidikan karakter pada lembaga pendidikan formal. Tuntutan tersebut didasarkan pada fenomena sosial yang berkembang, yakni meningkatnya kenakalan remaja dalam masyarakat, seperti perkelahian massal dan berbagai kasus dekadensi moral lainnya. Bahkan di kota-kota besar tertentu, gejala tersebut telah sampai pada taraf yang sangat meresahkan. Oleh karena itu, lembaga pendidikan formal sebagai wadah resmi pembinaan generasi muda diharapkan dapat meningkatkan peranannya dalam pembentukan kepribadian peserta didik melalui peningkatan intensitas dan dan kualitasnya

            Para pakar pendidikan pada umumnya sependapat tentang pentingnya upaya peningkatan pendidikan karakter pada jalur pendidikan formal. Namun demikian, ada perbedaan-perbedaan pendapat diantara mereka tentang pendekatan dan modus pendidikannya. Berhubungan dengan pendekatan, sebagian pakar menyarankan penggunaan pendekatan-pendekatan pendidikan moral yang dikembangkan di negara-negara barat, seperti: pendekatan perkembangan moral kognitif, pendekatan analisis nilai, dan pendekatan klarifikasi nilai. Sebagian yang lain menyarankan penggunaan pendekatan tradisional, yakni melalui penanaman nilai-nilai sosial tertentu dalam diri peserta didik.
            Ki Hadjar Dewantara dari Taman Siswa di Yogyakarta bulan Oktober 1949 pernah berkata bahwa "Hidup haruslah diarahkan pada kemajuan, keberadaban, budaya, dan persatuan”. Sedangkan menurut Prof. Wuryadi, manusia pada dasarnya baik secara individu dan kelompok, memiliki apa yang jadi penentu watak dan karakternya yaitu dasar dan ajar. Dasar dapat dilihat sebagai apa yang disebut modal biologis (genetik) atau hasil pengalaman yang sudah dimiliki (teori konstruktivisme), sedangkan ajar adalah kondisi yang sifatnya diperoleh dari rangkaian pendidikan atau perubahan yang direncanakan atau diprogram.
            2.2  PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKTER PADA USIA DINI
Pendidikan karakter pada anak usia dini , dewasa ini sangat di perlukan di karenakan saat ini Bangsa Indonesia sedang mengalami krisis karakter dalam diri anak bangsa. Karakter di sini adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang , bepikir, bersikap dan bertindak. Kebajikan tersebut berupa Sejumlah nilai moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, hormat pada orang lain, disiplin, mandiri, kerja keras, kreatif.
Berbagai permasalahan yang melanda bangsa be­la­kangan ini ditengarai karena jauhnya kita dari karakter. Jati diri bangsa seolah tercabut dari akar yang sesungguhnya. Se­hingga pendidikan karak­ter menjadi topik yang hangat di bicarakan belakangan ini. Menurut Prof Suyanto Ph.D karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mem­pertang­gungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.
Pembentukan karakter meru­pakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.
Pendidikan karakter di nilai sangat penting untuk di mulai pada anak usia dini karena pendidikan karakter adalah proses pendidikan yang ditujukan untuk mengembangkan nilai, sikap, dan perilaku yang memancarkan akhlak mulia atau budi pekerti luhur. Nilai-nilai positif dan yang seharusnya dimiliki seseorang menurut ajaran budi pekerti yang luhur adalah amal saleh, amanah, antisipatif, baik sangka, bekerja keras, beradab, berani berbuat benar, berani memikul resiko, berdisiplin, berhati lapang, berhati lembut, beriman dan bertaqwa, berinisiatif, berkemauan keras, berkepribadian, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersifat konstruktif, bersyukur, bertanggung jawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdas, cermat, demokratis, dinamis, efisien, empati, gigih, hemat, ikhlas, jujur, kesatria,  komitmen, kooperatif, kosmopolitan (mendunia), kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, manusiawi, mawas diri, mencintai ilmu, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai pendapat orang lain, menghargai waktu, patriotik, pemaaf, pemurah, pengabdian, berpengendalian diri, produktif, rajin, ramah, rasa indah, rasa kasih sayang,rasa keterikatan, rasa malu, rasa memiliki, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, semangat kebersamaan, setia, siap mental, sikap adil, sikap hormat, sikap nalar, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, taat asas, takut bersalah, tangguh, tawakal, tegar, tegas, tekun, tepat janji, terbuka, ulet, dan sejenisnya.
Sejatinya pendidikan karakter ini memang sangat penting dimulai sejak dini. Sebab falsafah menanam sekarang menuai hari esok adalah sebuah proses yanng harus dilakukan dalam rangka membentuk karakter anak bangsa. Pada usia kanak-kanak atau yang biasa disebut para ahli psikologi sebagai usia emas (golden age) terbukti sangat menen­tukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50 persen variabilitas kecer­dasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia empat tahun. Peningkatan 30 persen berikutnya terjadi pada usia delapan tahun, dan 20 persen sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua.
Dari sini, sudah sepatutnya pendidikan karakter dimulai dari dalam keluarga, yang merupakan lingkungan pertama bagi pertum­buhan karakter anak. Setelah keluar­ga, di dunia pendidikan karakter ini sudah harus menjadi ajaran wajib sejak sekolah dasar.
Anak-anak adalah generasi yang akan menentukan nasib bangsa di kemudian hari. Karakter anak-anak yang terbentuk sejak sekarang akan sangat menentukan karakter bangsa di kemudian hari. Karakter anak-anak akan terbentuk dengan baik, jika dalam proses tumbuh kembang mereka mendapatkan cukup ruang untuk mengekspresikan diri secara leluasa.
BAB III
PENUTUP
3.1  KESIMPULAN
                  *     Pengertian pendidikan karakter 
Ppendidikan karakter suatu sistem penanaman nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai “the deliberate use of all dimensions of school life to foster optimal character development”. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (pemangku pendidikan) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan. Di samping itu, pendidikan karakter dimaknai sebagai suatu perilaku warga sekolah yang dalam menyelenggarakan pendidikan harus berkarakter.
*.      Pendidikan karakter pada anak usia dini di nilai sangat penting karena anak-anak adalah generasi yang akan menentukan nasib bangsa di kemudian hari. Karakter anak-anak yang terbentuk sejak sekarang akan sangat menentukan karakter bangsa di kemudian hari. Pada usia kanak-kanak atau yang biasa disebut para ahli psikologi sebagai usia emas (golden age) terbukti sangat menen­tukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50 persen variabilitas kecer­dasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia empat tahun. Peningkatan 30 persen berikutnya terjadi pada usia delapan tahun, dan 20 persen sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. Pada usia inilah proses pendidikan karakter di mulai proses pendidikan yang ditujukan untuk mengembangkan nilai, sikap, dan perilaku yang memancarkan akhlak mulia atau budi pekerti luhur. Nilai-nilai positif dan yang seharusnya dimiliki seseorang menurut ajaran budi pekerti yang luhur adalah amal saleh, amanah, antisipatif, baik sangka, bekerja keras, beradab, berani berbuat benar, berani memikul resiko, berdisiplin, berhati lapang, berhati lembut, beriman dan bertaqwa, berinisiatif, berkemauan keras, berkepribadian, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersifat konstruktif, bersyukur, bertanggung jawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdas, cermat, demokratis, dinamis, efisien, empati, gigih, hemat, ikhlas, jujur, kesatria,  komitmen, kooperatif, kosmopolitan (mendunia), kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, manusiawi, mawas diri, mencintai ilmu, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai pendapat orang lain, menghargai waktu, patriotik, pemaaf, pemurah, pengabdian, berpengendalian diri, produktif, rajin, ramah, rasa indah, rasa kasih sayang,rasa keterikatan, rasa malu, rasa memiliki, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, semangat kebersamaan, setia, siap mental, sikap adil, sikap hormat, sikap nalar, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, taat asas, takut bersalah, tangguh, tawakal, tegar, tegas, tekun, tepat janji, terbuka, ulet, dan sejenisnya.
.
3.2  SARAN
Penulis sangat menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna , oleh karena itu Prnulis sangat mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca dan dosen pembimbing , agar dalam pembuatan makalah ke depannya dapat lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Tafsir, 2001
Anonimous, 2000
Bahan Dasar Peningkatan Wawasan Keagamaan (Islam) Guru Bukan Pendidikan Agama SLTP dan SMA, Depdiknas Dirjen Dikdasmen Bagian Proyek Peningkatan Wawasan Keagamaan Guru, Jakarta.
Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah, Yogyakarta : Penerbit Diva Press.
Draf Pedoman Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, Jakarta : Kemendiknas.
Jamal Ma’mur Asmani, 2010
Jerowaru Lombok Timur, 28 Oktober 2011
Kemendiknas, 2010
Peningkatan Keimanan dan Ketaqwaan Siswa Melalui Mata Pelajaran Umum, Gema PWKGA Edisi April 2001 : 1 - 5.
Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, Pedoman Sekolah, Jakarta : Kemendiknas
hasil analisis artikel
1.      Hasil analisis dari segi penulisan artikel
Pada penulisan artikel terdiri dari judul, nama penulis, abstrak, kata kunci, pendahuluan, bagian inti pembahasan, penutup (simpulan dan saran ), daftar rujukan. Namun didalam artikel diatas unsur unsur yang terdapat pada artikel tidak terpenuhi contohnya nama penulis, abstrak, kata kunci maupun saran yang terdapat pasa penutup.
2.      Hasil analisis dari segi Kata
Pada artikel di atas terdapat beberapa kesalahan dasar penulisan kata dan pemanfaatan kata dasar. Kata imbuhan ‘di’ yang seharusnya ditulis sambung, di sini dituliskan secara terpisah Pengulangan kata banyak terjadi di dalam sebuah kalimat.
Pada bagian isi, paragraf sembilan ditulis diindonesia seharusnya di indonesia.
Kesalahan tersebut terdapat di paragraf sebelas dalam penulisannya
“ ajar adalah kondisi yang sifatnya diperoleh dari rangkaian pendidikan atau perubahan yang direncanakan atau diprogram.”
Seharusnya ditulis seperti dibawah ini :
“ ajar adalah kondisi yang sifatnya diperoleh dari rangkaian pendidikan ,perubahan yang direncanakan atau diprogram.”
2. Hasil analisis dari segi Kalimat
Pada kalimat pertama paragraf pertama terdapat tiga kata konjungsi ‘dan”
Pada bagian isi paragraf pertama
Pendidikan adalah proses internalisasi budaya ke dalam diri seseorang dan masyarakat sehingga membuat orang dan masyarakat menjadi beradab.
Dapat ditulis seperti dibawah ini :
Pendidikan adalah proses internalisasi budaya ke dalam diri seseorang dan masyarakat sehingga membuat mereka menjadi beradab.
Penggunaan tulisan yang diserap dari bahasa asing
Pada bagian isi paragraf kedua
Menurut Tadkiroatun Musfiroh (UNY, 2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek
Seharusnya :
Menurut Tadkiroatun Musfiroh (UNY, 2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek
3. Hasil analisis dari segi Kesatuan Alinea
Alinea adalah seperangkat kalimat yang tersusun logis dan sistematis yang merupakan satu kesatuan ekspresi pikiran yang relevan dan mendukung pikiran pokok yang tersirat dalam keseluruhan karangan. Dengan demikian, tidak ada sebuah kalimat pun dalam paragraf yang tidak membicarakan ide pokok. Ide pokok alinea pertama adalah pengertian pendidikan. Ide pokok alinea kedua adalah pengertian karakter . Ide pokok alinea ketiga adalah pengertian pendidikan karakter . Ide pokok alinea keempat adalah sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal. Namun demikian, masih terdapat beberapa kalimat yang tidak menciptakan kesatuan alinea. Hal ini dapat kita lihat pada baris akhir alinea pertama dan baris awal alinea ketiga.
4. Hasil analisis dari segi Topik
Topik yang dibicarakan pada artikel di atas jelas, yakni Pentingnya Pendidikan Karakter pada anak sejak usia dini. Setiap kalimat berisi informasi mengenai topik utama.
5. Hasil analisis dari segi Isi Artikel
Isi artikel yang dibicarakan mendukung topik utamanya. Meskipun banyak kesalahan menurut tata bahasa Indonesia, namun untuk sebuah artikel yang sederhana seperti ini, cukup mengandung informasi yang penting. Pembaca mendapatkan informasi tentang hubungan pengertian pendidikan karakter dan pentingya pendidikan karakter bagi anak usia dini.
6. Hasil analisis dari segi Logika
Artikel ini lebih logis ,penggunaan kata dan pola kalimat lebih baik, sehingga kita dapat menangkap maksud dari setiap kalimat yang ditulis. Namun demikian, masih banyak celah yang dimiliki artikel ini sehingga masih memerlukan perbaikan penulisan, agar sesuai dengan Ejaan Yang Disesuaikan.
Baca Selengkapnya →